Pesona Langkawi

Di artikel pertama, saya ceritakan soal pertama kali diving yang saya lakukan di Langkawi Malaysia. Tapi saya belum ceritakan mengenai Langkawi ini. Nah begini ceritanya.

Tadinya saya kurang tahu mengenai Langkawi. Awalnya saya meng-googling 10 besar pantai terbaik di dunia untuk saya kunjungi suatu hari kelak, karena saya suka sekali pantai. Tak disangka, Langkawi Malaysia masuk dalam 10 besar versi National Geographic.  Cek link ini. Ya saya juga heran kenapa pantai-pantai yang bagus di Indonesia tidak masuk dalam daftar di situ. Memang 10 besar pantai terbaik bisa berbeda-beda menurut media lain, contohnya versi CNN, The Guardian, dan Travel and Leisure. Silahkan googling sendiri :). And Again, tidak ada pantai di Indonesia yang masuk 10 besar :(.

Dari pada pusing bagaimana cara penilaiannya, berhubung Malaysia dekat dengan Indonesia, langsung lah mulai berburu tiket ke sana. Pada saat itu dan sampai tulisan ini dibuat, tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Langkawi. Jadinya harus mampir dulu di Kuala Lumpur baru kemudian menggunakan connecting flight ke Langkawi.

Singkat cerita, sampailah saya dan 4 orang teman saya di Langkawi. Untuk suatu pulau yang masuk 10 besar tujuan wisata pantai, terlihat sepi-sepi saja.  Saya pikir oh nanti di jalan pantai tempat saya menginap mungkin bakalan ramai. Karena saya sengaja memilih pantai Cenang, yang katanya pantai paling ramai di Langkawi.

Siang hari sampailah kami di Fave hotel tempat kami menginap. Hotelnya cukup bagus, bersih dan cozy, berada di ujung jalan pantai Cenang. Jalanan masih tampak sepi. Tidak banyak orang yang lalu lalang. Tidak banyak toko yang buka. Saya tanya orang hotel apakah memang sesepi ini . Orang hotel bilang mungkin karena masih siang. Kebanyakan orang jalan jalan di sini mulai sore hari sampai malam. Oh ya sudah, kami pun mulai unpacking dan leyeh leyeh saja di hotel sampai sore.

Sore hari, kami keluar hotel untuk jalan-jalan di tepi pantai. You know what? Tetap sepiii , walaupun tidak sesepi siangnya.  Anggapan saya dengan membaca dari internet bahwa pantai Cenang adalah pantai paling ramai, langsung keinget pantai Kuta Bali. So saya agak heran. Ya sudah lah, pokoknya main di pantai. Pantai Cenang sih mirip pantai Kuta, tidak jernih , walaupun air laut masih terlihat biru. Makin malam pantai Cenang makin ramai, walaupun tidak bisa dibandingkan dengan keramaian pantai Kuta Bali atau pantai Patong Phuket.

Image

Keesokan hari, kami berangkat ke Pulau Payar Marine Park. Dari namanya jelas bahwa pulau ini merupakan taman laut yang sangat dijaga kelestariannya. Ada dua paket yang ditawarkan untuk ke pulau ini. Paket biasa, dimana tamu hanya dapat bermain di pinggir pantai, ber-snorkeling ria, dan disediakan lunch box. Kemudian ada paket upgrade, dimana tamu akan ditempatkan di sebuah platform agak ke tengah laut (gak tengah-tengah banget, masih bisa berenang sebentar ke pantai kok 🙂 ), disediakan buffet, fresh water dan dapat melakukan snorkeling dan diving langsung dari platform. Karena kami anak manja, kami mengambil paket upgrade hehe.

Sesampai di Pulau Payar kami cukup kagum.  Air lautnya tenang dan bening. Ikan warna warni yang banyak sangat jelas terlihat. Kami tergiur untuk buru-buru nyebur ke laut bermain dengan ikan-ikan. Di Pulau ini, terdapat banyak baby sharks (hiu kecil). Tenang, hiu ini tidak mengganggu atau menggigit anda. Bahkan cenderung pemalu, yang akan menjauh kalau anda menghampiri. Mirip-mirip dengan yang ada di penangkaran hiu Karimun Jawa.

Image

Image

Image

Setelah puas seharian bermain air, berenang, snorkeling dan diving di Pulau Payar kami kembali ke hotel. Malamnya kami pergi makan malam di salah satu restoran yang cukup ramai di pantai Cenang bernama Nasi Kandar Tomato, yang menyajikan makanan khas India dan Malaysia. Roti canai dan teh tariknya sungguh enak di sini. Selesai makan malam, kami segera pulang ke hotel untuk istirahat karena besoknya masih harus melakukan tour seharian.

Esok harinya, kami bermain ke pulau Dayang Bunting. Kami berangkat dari pantai yang tidak terlalu jauh dari hotel kami. Sekitar 15 menit perjalanan mobil. Dari situ kami menggunakan boat umum menuju pulau Dayang Bunting. Pulau ini dinamakan Pulau Dayang Bunting karena struktur geografis yang membentuk perbukitan serta bebatuan di sekeliling danau di pulau ini, yang seolah-olah menggambarkan seorang wanita hamil yang sedang tidur terlentang. Namun, ada juga sebuah legenda yang sangat terkenal di kalangan masyarakat sekitar yang mendasari nama pulau ini. Konon ada seorang putri kayangan yang gemar bermain dan mandi di danau ini, bernama Mambang Sari. Suatu hari ada seorang putra raja yang bernama Mat Teja, ia melihat putri Mambang Sari dan jatuh hati padanya. Putri Mambang Sari pun terpikat padanya, hingga keduanya menikah dan putri Mambang Sari mengandung. Sayangnya, buah hati mereka mangkat di usianya yang baru tujuh hari diakibatkan oleh penyakit yang misterius. Putri Mambang Sari yang tengah dirudung duka akhirnya mengkebumikan jenazah anaknya di dalam danau ini.

Image

Setelah kami bermain di pulau Dayang Bunting, kami menuju pulau Beras Basah.  Namun sesampai di pulau ini hujan turun.  Yah kami tidak peduli, karena tujuannya memang untuk berenang saja. Karena hujan, air lautnya tidak terlalu bening. Namun kami tetap enjoy berenang di pantai ini.

Setelah puas ciplak cipluk main air di pulau Beras Basah, kami menuju pulau Singa Besar. Yang dilihat di pulau ini bukan Singa :), namun Elang yang berseliweran di atas kepala kita. Kita bisa feeding elang tersebut dari atas boat. Semua boat tidak merapat ke pantai, karena tujuannya memang untuk melihat elang-elang itu di atas boat. Juru mudi boat akan melempar daging ayam ke atas untuk disambar elang tersebut. Kesempatan yang bagus untuk mengambil foto atau video.

Hari sudah siang, kami bergegas kembali ke hotel untuk bersiap-siap ke Langkawi cable car di gunung Mat Chinchang. Di sini lah, saya terkagum-kagum.  Cable car / kereta gantung ini dibuat untuk naik ke puncak gunung, yang tingginya 713m di atas permukaan laut. Jarak dari titik awal naik kereta gantung sampai ke puncak gunung adalah 2,2 km. Ini merupakan kabel kereta gantung terpanjang di dunia.

Di atas puncak gunung, terdapat platform untuk menikmati keindahan panorama bukit dan laut. Keren bangetss! Kami puas foto-foto di sini.  Di atas puncak itu, kami sempat tertutup awan, ahh keren lah. Seandainya cable car seperti ini ada di Indonesia.

Image

Image

Image

Ahh sungguh liburan yang menyenangkan dengan klimaks naik cable car ke puncak gunung. Someday I’ll be back 🙂

@Rezkito

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s